Tingginya kasus kanker di dunia mendapat perhatian dari berbagai pihak. Berbagai upaya dilakukan untuk menumbuhkan harapan hidup pasien kanker, salah satunya dengan perawatan paliatif. Di RSHS sendiri, dari rentang tahun 2103 hingga 2014, kasus kanker didominasi oleh kanker payudara, kanker kolorektal, kanker paru-paru dan kanker serviks. “Salah satu penyakit terbanyak di RSHS adalah penyakit dengan keganasan diantaranya kanker oleh karena itulah RSHS telah mengembangkan Tim Paliatif di RSHS agar pasien kanker dapat merasa lebih baik dalam menghadapi penyakitnya” demikian dikatakan Direktur Utama RSHS, dr. Ayi Djembarsari, MARS dalam pembukaan  kegiatan pelatihan Perawatan Paliatif Pasien Kanker Bagi Petugas kesehatan dan Care Giver di fasilitas pelayanan Kesehatan dan di Rumah, Senin (20/11 ) bertempat di gd. Pertemuan lt. 7 Gedung Diagnostic dan Cardiac Center RSHS.  Pelatihan ini terselenggara atas kerjasama Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Pusat dengan PERUM BULOG, YKI Cabang Jawa Barat, Masyarakat Paliatif Indonesia dan RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.

Lebih jauh Ayi mengungkapkan bahwa sebagai rumah sakit rujukan nasional, RSHS memiliki tugas yang besar untuk ikut mengembangkan tim paliatif di masing-masing rumah sakit regional. Pasien yang datang ke RSHS hampir sebagian kasus kankernya ditemukan pada stadium lanjut. Pasien dengan kondisi tersebut mengalami penderitaan yang memerlukan pendekatan terintegrasi berbagai disiplin ilmu agar pasien tersebut memiliki kualitas hidup yang baik dan pada akhir hayatnya meninggal secara bermartabat. Dirut RSHS menyambut baik banyaknya peserta pelatihan ini yang berasal dari rumah sakit – rumah sakit regional dan swasta disekitar Jawa Barat. Dengan demikian, para peserta ini akan memiliki kompetensi di bidang perawatan paliatif.  Hal ini tentunya akan memberikan dampak yang baik karena masyarakat yang yang ingin mendapatkan layanan ini tidak usah jauh-jauh datang ke RSHS  karena mereka (masyarakat) dapat memperoleh layanan ini di rumah sakit-rumah sakit terdekat dari domisili mereka. Harapan Ayi, Tim paliatif RSHS nantinya akan mengampu tim paliatif dari rumah sakit regional sehingga jejaring perawatan paliatif akan terwujud dengan demikian tim paliatif di rumah sakit regional menjadi pelopor di rumah sakit masing-masing agar mampu mengembangkan tim paliatif untuk pasien kanker di daerah mereka.

Pelatihan Perawatan Paliatif Pasien Kanker Bagi Petugas Kesehatan dan Care Giver di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan di Rumah diselenggarakan selama 4 hari dari tanggal 20 hingga 23 November 2017. Pelatihan ini diikuti oleh 70 orang peserta yang bersal dari 7 rumah sakit regional dan 2 rumah sakit swasta di Jawa Barat, YKI Jawa Barat, YKI Bogor, RSHS dll. Dalam pelatihan tersebut,  dr. Diah Purwanti M.Kes dari YKI cabang Jawa Barat mengungkapkan bahwa Saat ini,  YKI Pusat memang sedang melakukan pengembangan program paliatif di YKI Cabang yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. YKI cabang Jawa Barat sendiri dalam 3 tahun mendatang mempunyai program pengembangan program paliatif di daerah Jawa Barat. Sepanjang tahun 2017, YKI melaksanakan kegiatan pelatihan di 10 cabang YKI yakni Kupang, Palembang, Makassar, Bandung, Jakarta, Aceh, Semarang, Banjarmasin, Papua dan Samarinda. Tim pengajar paliatif terdiri dari dokter, perawat dan fisioterapis. Pelatihan ini bertujuan agar para peserta memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang perawatan pasien paliatif di rumah.

Sementara itu, dr. Drajad Ryanto Suardi, Sp.B(K). Onk dari perkumpulan Masyarakat Paliatif Indonesia mengungkapkan bahwa perawatan paliatif di Indonesia sudah mulai berkembang dengan baik meskipun belum semestinya. Ini berkaitan dengan definisi dari paliatif itu sendiri.  Masih banyak orang yang belum mengerti benar tentang paliatif.  Menurut Drajat, saat ini perawatan paliatif memang sudah berkembang tapi belum sempurna karena sistemnya belum terintegrasi dan kita selama ini selalu menerima kasus-kasus end of life. “ Namun meskipun demikian, hal ini bagus dapat kita jadikan starting  point. Hal ini dapat kita maklumi karena konsep paliatif sendiri belum dipahami benar oleh masyarakat dan bahkan untuk tenaga kesehatan itu sendiri” tambahnya.***

 

Comments are closed.

%d bloggers like this: