Bantu Anak Berkebutuhan Khusus

Anak merupakan bagian masa kini dan pemilik masa depan. Bagi banyak anak, khususnya anak dengan keterbatasan atau anak berkebutuhan khusus, fasilitas pada pelayanan kesehatan masih memprihatinkan. Untuk membantu orang tua dan pengasuh anak berkebutuhan khusus lebih memahami bagaimana mengelola pengasuhan serta damaknya, maka Departemen Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (IKFR) RSUP dr Hasan Sadikin Bandung mengadakan acara berbagi dengan komunitas PELITA (Perkumpulan Peduli Anak dengan Keterbatasan).

Untuk membantu orang tau dan pengasuh anak berkebutuhan khusus lebih memahami bagaimana pengelolaan pengasuhan serta dampaknya, maka Departeman / SMF Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (IKFR) FKUP/RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung mengadakan acara berbagi dengan kmunitas PELITA (Perkumpulan PeduliAanak Dengan Keterbatasan).

Kegiatan PELITA dilaunching pada 28 Maret 2012. Acara ini merupakan salah satu kegiatan pengabdian masyarakat. Departemen IKFR yang bertujuan berbagi ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam mendampingi anak dengan keterbatasan bagi orang tua maupun pengasuhnya.

Pencanangan PELITA diawali dengan diadakannya seminar awam pada 23 September 2012 dan dibuka oleh ibu Hj. Nety Prasetiyani Heryawan, M.Psi (Isteri Gubernur Jawa Barat) di Gedung RS Pendidikan Fakultas Kedokteran UNPAD yang dihadiri oleh direktur Medik RSUP dr. Hasan Sadikin, dan Dekan FKUP.

Salah satu kegiatan rutin yang diselenggarakan PELITA adalah petemuan antara orang tua anak dengan keterbatasan di SMF IKFR RSHS, setiap minggu ke-4 tiap bulannya. narasumbernya diantaranya Ellyana dr, SpKFR, Marieta Shanti, dr. SpFR, Yuyun Syarifah, M.Psi, Dra. Firi dan Dra. Nuriyah, rekan-rekan terapis, serta PPDS secara bergiliran.

Mengenali anak dengan kebutuhan khusus

Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan mengalami kelainan/penyimpangan (fisik, mental-intelektual, sosial, dan emosional) dalam proses pertumbuhannya dibandingkan dengan anak lain seusia. Banyak istilah yang dipergunakan sebagai variasi dari kebutuhan khusus, seperti disability, impairment dan handicaped. Menurut World Health rganization (WHO), definisi masing-masing istilah adalah sebagai berikut:

Imprairment

Suatu keadaan atau kondisi dimana individu mengalami kehilangan atau abnormalitas psikologis, fisiologi atau fungsi struktur anatomis secara umum pada tingkat organ tubuh. Contoh seseorang yang mengalami amputasi satu kakinya, maka dia mengalami kecacatan kaki.

Disability

Suatu keadaan dimana individu mengalami kekurangannya yang dimungkinkan karena adanya keadaan impairment seperti kecacatan pada organ tubuh. Contoh pada orang yang cacat kakinya, maka dia akan merasakan berkurangnya fungsi kakinya, maka dia akan merasakan berkurangnya fungsi kaki untuk melakukan mobilitas.

Handicaped

Ketidakberuntungan individu yang dihasilkan dari impairment atau disability yang membatasi atau menghambat pemenuhan peran yang normal pada individu. Handicaped juga bisa diartikan suatu keadaan dimana individu mengalami ketidakmampuan dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan. Hal ini dimungkinkan karena adanya kelainan dan berkurangnya fungsi organ individu. Contoh orang yang mengalami amputasi kaki sehingga untuk aktivitas mobilitas atan berinteraksi dengan lingkungannya memerlukan kursi roda.

Selain beberapa hal diatas, anak yang termasuk kedalam berkebutuhan khusus lainnya seperti tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan perilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. Istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat atau dengan keterbatasan.

Salah satu contoh keterbatasan pada adalah Palsi Serebral yang mengakibatkan penderitanya disebut berkebutuhan khusus. Banyak anak dengan palsi serebral mengalami gangguan komunikasi, sensori-motor, dan intelektual, yang menimbulkan gangguan fungsional yang cukup kompleks. Banyak anak berkebutuhan khusus mengalami kesulitan dalam hal merawat diri.

Anak dengan keterbatasan seringkali membutuhkan akses dan pemanfaatan tenaga kesehatan yang cukup dalam jangka waktu yang lama. Peran sebagai orangtua dan pengasuh (care giver) pada anak dengan keterbatasan merupakan suatu yang sangat berbeda dengan mendampingi anak sehat. Bagi orang tua/pengasuh hal ini merupakan beban mengingat peran ini berlangsung sepanjang hidup.

 

 

Comments are closed.

%d bloggers like this: