Berdasarkan UU No. 4/1997 tentang Penyandang Cacat/disabilitas, penyandang cacat  atau difabel (Different Ability) adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan hambatan baginya untuk melakukan kegiatan selayaknya, terdiri dari penyandang cacat fisik, cacat mental, serta cacat fisik dan mental (ganda).

Definisi kecacatan menurut Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) terdiri dari impairment, disability dan handicap. Impairment: ketidaknormalan atau hilangnya struktur/ fungsi psikologis/anatomis. Disability: ketidakmampuan atau keterbatasan seseorang melakukan aktivitas secara normal akibat impairment. Handicap : keadaan yang merugikan seseorang akibat imparment dan disability, sehingga menghalangi peran normal (sesuai usia, jenis kelamin, serta faktor budaya). Kecacatan dapat muncul baik primer, sekunder maupun tersier. Kecacatan primer muncul akibat penyakit yang diderita pertama kali misalnya seseorang kecelakaan menjadi lumpuh.  Kecacatan sekunder dan tersier muncul akibat kecacatan primer atau sekunder yang sudah ada, misalnya kasus diatas menyebabkan seseorang tidak mampu mobilisasi sekian lama sehingga terjadi kontraktur (kaku sendi). Kontraktur tersebut termasuk kecacatan sekunder.

Hari Disabilitas Internasional (HDI) yang jatuh pada tanggal 3 Desember ditetapkan melalui resolusi Dewan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) No. 47/3 tahun 1992. Kegiatan memperingati HDI hendaknya bukan hanya perayaan yang bersifat seremonial dan menghamburkan biaya, namun sebaiknya pemberdayaan difabel (bukan pernyataan saja atau retorika) bahkan alangkah baiknya upaya pencegahan kecacatan, deteksi dini kecacatan atau pemeriksaan serta dukungan psikososial bagi para difbel maupun keluarganya.

Upaya yang gigih pada aspek kesehatan sangat diperlukan agar skala prioritas pencegahan kecacatan ditetapkan. Indikator sasaran pembangunan kesehatan jangka panjang sampai 2025 masih belum berdampak pada angka kecacatan. Derajat dan status kesehatan seseorang tidak hanya ditentukan oleh sehat atau tidak sehat (adanya penyakit), tetapi juga oleh seberapa jauh dapat melaksanakan fungsinya sesuai usia, jenis kelamin dan kondisi lingkungannya. Penyebab terjadinya gangguan fungsi beragam: bisa akibat  langsung/tidak dari penyakit, trauma, kelainan bawaan(“congenital”), cedera, dll. Gangguan fungsi dapat berlanjut menjadi disabilitas (“disability”) dan atau bahkan menjadi ketunaan (“handicap”).

Konsep rehabilitasi bagi difabel merupakan pendekatan strategi medis maupun individual sebagai salah satu model pemecahan masalah penyandang cacat. Rehabilitasi merupakan suatu proses pencapaian fungsi secara optimal yang memungkinkan difabel hidup wajar dalam kehidupan masyarakat sesuai dengan kemampuannya.

 

Rehabilitasi Medik

Pendekatan rehabilitasi secara medis telah berkembang sejak abad ke 18. Bidang ini merupakan spesialisasi ilmu kedokteran yang menangani masalah gangguan fungsi/cedera, sosial dan kekaryaan yang menyertai kecacatan secara menyeluruh”. Rehabilitasi tersebut mencakup habilitasi yaitu upaya membantu seseorang yang mengalami kelainan sejak lahir atau masa kanak-kanak. Peran layanan rehabilitasi medik terdiri dari pemeriksaan fungsi, terapi fisik, tatalaksana komunikasi, aktifitas sehari hari serta pemberian alat bantu mobilisasi maupun kaki/tangan palsu bahkan dukungan psikologi dan sosial medik yang bersifat komprehensif.

Tahun ini Depertemen/ SMF Ilmu kedokteran fisik dan Rehabilitasi Medik RSHS terutama Divisi Rehabiltasi Anak terlibat dalam beberapa penyelenggaraan acara memperingati Hari Disabilitas Internasional. Kegiatan tersebut antara lain :

  1. 4 Desember 2016

Kegiatan memperingati Hari Disabilitas pertama kali tahun ini diadakan dengan tema Yoga bersama Anak Disabilitas. Acara diprakarsai oleh dr Marieta Shanti Prananta, SpKFR bersama dokter Rehabilitasi Medik se Jawa Barat. Yoga dan talk show Yoga dihadiri oleh sebagian besar anak Sindroma Down. Acara ini diakhiri dengan pemeriksaan rehabilitasi medik.

yoga-difabel

  1. 11 Desember 2016

Acara tanggal tersebut tidak kalah menarik yaitu Senam bagi Difabel yang diikuti oleh para peserta didik dokter Spesialis Rehabilitasi Medik UNPAD dan para difabel di Balai kota Bandung.  Kegiatan ini diadakan oleh Dinas Sosial  Jawa Barat yang bekerja sama pula dengan Departemen/SMF Ilmu kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik RSHS.

senam-difabel

  1. 13 Desember 2016

Tanggal ini diisi dengan kegiatan penyuluhan seputar disabilitas di beberapa lokasi di RSUP dr Hasan Sadikin antara lain di poliklinik rehabilitasi Medik, Geriatri dan Anak serta di ruang tunggu perawatan Kenanga 2.

dr-sunaryo

  1. 15 Desember 2016

Kegiatan ini diadakan di Sekolah Luar Biasa Yayasan Penyandang Anak Cacat Bandung yang berlokasi di Jl. Mustang no 46. Ketua panitia dr Ellyana Sungkar SpKFR bersama mahasiswa UNPAS jurusan kesejahteraan sosial dan pengurus YPAC mengemas kegiatan beberapa permainan yang dilombakan bagi seluruh siswa YPAC. Anak difabel  tersebut tampak senang dan bahagia.

Konsekuensi penyebutan kecacatan seringkali menempatkan difabel sebagai subjek yang tersingkirkan. Mari kita melaksanakan kegiatan bersama mereka di segala bidang. Difabel bukan hanya sebagai obyek tetapi sama seperti kita. Perlu adanya perubahan paradigma dari para pengambil kerputusan. Kini saatnya seluruh steakholder agar bersatu dan menghasilkan kebijakan serta memberikan pelayanan agar kualitas hidup difabel semakin baik dan angka kecacatan dapat diturunkan.

Selamat Hari Disabilitas Internasional !

Dr. Ellyana Sungkar Sp.KFR )

difabel-1

difabel-3

Comments are closed.

%d bloggers like this: