Dekadensi moral bangsa dan menurunnya kesadaran akan bahaya Human Immunodeficiency Virus (HIV) dari tahun ke tahun menjadi ancaman yang tiada henti. Bagaimana tidak, di Indonesia, berdasarkaan hasil penelitian para ahli, estimasi jumlah orang positif HIV tahun 2012 sekitar 216.000 orang dengan yang terlapor HIV positif sekitar  5991 orang dan AIDS sekitar 551 rang (data Maret 2012).

Persentase kumulatif menurut kelompok umur di Indonesia tahun 1987 sampai dengan Maret 2012, kasus AIDS terbanyak berada pada kelompok usia 20-29 tahun (46 %) dan kelompok usia 30-39 tahun (31,4 %), dilanjutkan dengan kelompok usia 40-49 tahun (10,2 %). Sementara menurut data kasus AIDS menurut jenis kelamin terbanyak di Indonesia adalah laki-laki dengan 71 %. 

Jumlah kasus AIDS tertinggi ditemukan pada wiraswasta (4.604 kasus), diikuti ibu rumah tangga (4.251 kasus), tenaga non-profesional / karyawan (4.056 kasus), buruh kasar (1.512 kasus), petani/peternak/nelayan (1.497 kasus), penjaja seks (1.320 kasus) dan anak sekolah/mahasiswa (1.022 kasus).

Jawa Barat menempati peringkat ke-4 dari seluruh provinsi di Indonesia setelah DKI Jakarta, Jawa Timur dan Papua. Estimasi orang dengan positif HIV-AIDS di Jawa Barat sekitar 23.416 orang dengan yang terlapor hingga bulan Maret 2012 hanya sekitar  4043 orang.

Berdasarkan jenis kelamin, menurut data Maret 2011, dari 3.537 kasus AIDS yang dilaporkan, sebanyak 2.731 adalah laki-laki, 798 perempuan, dan 8 orang tidak diketahui jenis kelaminnya. Sementara cara penularan AIDS terbanyak di Jawa Barat adalah dari Penasun (Pengguna Narkotika dan Zat Adiktif Suntik) dengan persentase 70,03 %  dan heterosex 21,09%. Menurut dr. Nirmala Kesumah, MHA, Kepala Klinik Teratai RSHS, tren cara penularan AIDS ini cenderung berubah. Di tahun-tahun lalu, penasun menjadi cara terbanyak penularan AIDS, namun dari pasien yang berobat ke Klinik Teratai RSHS akhir-akhir ini, ternyata semakin banyak pasien yang tertular karena hubungan sex antara lawan jenis (heterosex).

Di Jawa Barat, Bandung menjadi kota terbanyak kasus AIDS dengan angka kematian yang tinggi pula. Dari 1424 kasus AIDS,  157 orang dilaporkan meninggal. Angka itu disusul oleh Kabupaten Bekasi dengan jumlah kasus 560 dan meninggal 129 orang pada urutan kedua. Urutan ketiga adalah Kota Bogor dengan jumlah kasus 251 dan korban meninggal 28 orang, dilanjutkan dengan Kota Sukabumi dan Kabupaten Subang.

Layanan pengobatan dan pencegahan HIV-AIDS kini memang telah banyak, baik dari pemerintah maupun swasta. Menurut data dari Pusat Komunikasi Publik (Puskom Publik) Kementerian Kesehatan RI, sampai dengan September 2012, sudah tersedia layanan HIV-AIDS di Indonesia sebanyak 460 layanan Konseling dan Tes HIV Sukarela (KTS) termasuk Konseling dan Tes HIV yang diprakarsai oleh Petugas Kesehatan (KTPK).

Selain itu, terdapat 322 layanan Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (PDP) yang aktif melakukan pengobatan ARV, terdiri dari 238 RS Rujukan PDP (induk) dan 85 satelit; 80 Layanan Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM); 299 layanan Infeksi Menular Seksual (IMS), 94 layanan Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA) dan 223  layanan (kolaborasi) TB-HIV.

Jika disimak, Angka-angka AIDS memang cenderung menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Di Jawa Barat saja, jumlah kasus HIV tahun 2011 mencapai 21.031 orang, artinya jauh lebih banyak dari data sementara tahun 2012 yang mencatat 4043 orang positif HIV-AIDS. Namun penurunan ini belum mutlak, karena data yang dilaporkan tahun 2012 baru sampai bulan Maret. Jika ternyata memang berkurang, barangkali penurunan ini menjadi salah satu prestasi Pemerintah, Rumah Sakit, NGO dan berbagai pihak yang concern terhadap HIV AIDS, tetapi tak pelak, penyakit mematikan ini masih menjadi ancaman dan perlu perhatian yang besar pula dari berbagai pihak.

Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat & Puskom Publik Kementerian Kesehatan

Comments are closed.

%d bloggers like this: