Menurut data dari Dinas Kesehatan Prov. Jawa Barat bulan Maret 2012, sekitar 71 % dari jumlah orang yang terinfeksi HIV/AIDS adalah kaum laki-laki. Tetapi kini, berdasarkan berbagai sumber yang dirilis di berbagai media, penularan HIV/AIDS akibat heteroseksual semakin meningkat. Jadi tak heran, banyak perempuan yang tertular dari pasangannya.

Hal ini didukung oleh data jumlah kumulatif kasus AIDS menurut pekerjaan di Indonesia tahun 1987-Maret 2012 yang mendapati Ibu rumah tangga ada di peringkat 2 terbanyak dengan jumlah 3092 kasus. Berbeda dengan data sebelumnya, data bulan Januari hingga Maret 2012 menyatakan bahwa selama tiga bulan terakhir jumlah kasus AIDS terbanyak diderita oleh ibu rumah tangga dengan jumlah kasus 92.

Begitu juga dengan data dari Klinik Teratai RSHS. Dalam dua tahun terakhir, dari 85 kasus yang ditawarkan PITC (Provider Initiatid Testing and Conseling/ tes HIV dengan inisiasi petugas kesehatan), terdapat 25 anak dari pasangan positif HIV-AIDS berhasil diperiksa HIV. Hasilnya, 3 anak teridentifikasi positif HIV.

Hal serupa menjadi perhatian khusus Menteri Kesehatan RI, Nafsiyah Mboi, DSpA, MPH, “Dari ibu ini bisa menularkan kepada bayinya, sehingga ada upaya yang lebih intensif untuk perlindungan perempuan dan anak-anak”, ungkapnya.

Nafsiah menambahkan bahwa kondisi seperti itu terjadi karena masih adanya ketidakadilan gender. “Kita ingin menarik perhatian bahwa kuncinya ada di tangan laki-laki. Kalau laki-laki itu punya pilihan, memakai uangnya untuk beli penyakit atau beli gizi anaknya”, ujarnya.

Kunci pencegahannya di tangan laki-laki yang berperilaku berisiko, baik lewat kegiatan seksual atau narkoba. Dan yang kedua, bagi mereka yang sudah terinfeksi maka harus terbuka. Secara kultural pencegahan bisa dilakukan dengan konseling dan pemeriksaan kesehatan pra nikah, pemeriksaan pasangan dengan HIV (+), kampanye anti perilaku menyimpang, dan cara yang paling sederhana bagi pasangan yang telah menikah dengan pria HIV (+) adalah menggunakan kondom saat berhubungan.

Pencegahan penularan melalui kondom inilah yang beberapa waktu lalu disosialisasikan Nafsiah Mboi. “Salah satu cara yang cukup sederhana untuk melindungi perempuan terhadap penularan HIV yang bersumber dari suaminya adalah dengan penggunaan kondom.” ungkapnya.

Nafsiah Mboi mengatakan bahwa tanpa program terobosan seperti pembagian kondom maka sekitar 1,8 juta rakyat Indonesia terancam terinfeksi AIDS pada 2025.

Melindungi perempuan dengan 4 Prong

Secara garis besar, sesuai standar yang berlaku secara internasional, kegiatan perlindungan terhadap Perempuan dan Anak dari HIV/AIDS di Klinik Teratai terbagi kepada empat Prong.

Prong pertama adalah pencegahan utama HIV di kalangan perempuan usia reproduksi dengan layanan yang terkait dengan kesehatan reproduksi seperti perawatan antenatal, postpartum / natal perawatan dan kesehatan lainnya dan titik pelayanan HIV, termasuk bekerja sama dengan struktur masyarakat.

Hal ini dilakukan agar perempuan negatife jangan sampai positif. memberi edukasi kepada anak sekolah, ibu Rumah Tangga, kerjasama Unit Pelaksana Kesehatan, program Sehat Bersama Sahabat (HEBAT) untuk anak SMP, kerjasama dengan Puskesmas, Posyandu, ibu pengajian, adalah beberapa kegiatan pada prong ini.

Di Kota Bandung sendiri, inisiatif RSHS bersama Dinas Pendidikan telah memasukkan ke dalam kurikulum SMP baik SMP Negeri maupun Swasta program HEBAT. Dua tahun terakhir, 37 SMP telah melaksanakan program ini. Program yang dimaksud adalah penyuluhan bimbingan dengan guru BP mengenai perilaku hidup bersih dan sehat khususnya perilaku yang tidak menyimpang yang dapat menimbulkan resiko terinfeksi HIV/AIDS.

Prong kedua adalah pencegahan ibu positif HIV/AIDS agar jangan sampai hamil. Dilakukan konseling dan pengobatan. Kehamilan juga dapat direncanakan dengan metode konseling, sehingga jika ibu dengan positif HIV/AIDS ingin hamil bisa dilakukan kehamilan dengan rencana. Jika pasien telah meminum terapi anti-Retroviral (ARV), dan jumlah virus HIV dalam tubuh tidak sedang tinggi, maka dapat dilakukan program kehamilan. Perencanaan program tersebut dilakukan dengan konsultasi intensif dengan para ahli.

Prong selanjutnya yaitu mencegah perempuan dengan HIV (+) yang telah hamil agar tidak menular kepada anaknya. Untuk wanita hamil yang hidup dengan HIV, tes HIV dan menjamin akses ke obat ARV yang akan membantu kesehatan ibu sendiri dan mencegah infeksi yang ditularkan kepada bayinya selama kehamilan, persalinan, dan menyusui. Selain konseling secara berkesinambungan, sang ibu diharuskan menjalani seksio sessarea saat melahirkan, anaknya mendapat ARV provilaxis selambat-lambatnya 4 jam setelah partus, jangan menyusui kecuali jika tidak mampu menyediakan susu formula.

Kalaupun susu formula tidak dapat karena alasan biaya/harga susu tidak terjangkau, factor kebersihan air/botol susu tidak terjamin, ASI dapat diberikan secara eksklusif selama 6 bulan tanpa dicampur den dengan susu formula, karena pemberian ASI yang dicampur dengan susu formula (mix feeding) akan meningkatkan resiko penularan HIV. Demikian juga perlu diingat makin lama seorang ibu dengan HIV (+) menyusui anaknya, maka resiko penularannya akan semakin meningkat.

Prong terakhir adalah program terhadap perempuan positif dan anak positif. Beri dukungan psikososial tidak diperlakukan diskriminatif dan diberi dukungan medis, psikologis, maupun sosial.

Comments are closed.

%d bloggers like this: