(RSHS, 09/02/2013) Seringkali kita mendengar bahwa penyakit rematik merupakan penyakit yang pada umumnya diderita oleh orang berusia lanjut yang diakibatkan oleh aus-nya persendian. Namun, dalam dunia kedokteran, sebab akibat rematik tidak hanya sebatas aus-nya persendian. Tapi juga terjadi akibat penyakit autoimun dan disebabkan peradangan sendi yang biasa disebut artritis rematoid.

“Manifestasi klinis dari artritis reumatoid biasanya terjadi pada persendian berupa artritis atau ekstra artikuler. Ciri-ciri utama pada penderitanya adalah nyeri, kaku dan bengkak pada persendian perifer,” ungkap dr. Riardi Pramudiyo, SpPD-KR, dokter spesialis penyakit dalam, Divisi Reumatologi, Dep. Penyakit Dalam, RSHS dalam Simposium Ilmiah “Reumatologi Klinik Bandung 2013” di Hotel Aston Primera Bandung, Jl. Dr. Djunjunan No.96, Bandung, Sabtu (9/02).

dr. Riardi menambahkan, persendian yang paling sering terserang penderita biasanya dimulai dari persendian ekstrimitas atas, dimana sepertiganya menyerang sendi multiple, dan seperempat kasus hanya menyerang tangan. Persendian yang paling sering terserang adalah proximal inter phalangeal (PIP), metacarpophalangeal (MCP) dan pergelangan tangan disusul oleh persendian metatarsophalangeal (MTP) di kaki, pergelangan kaki dan bahu.

“Maka dari itu, penting menegakan diagnosis sedini mungkin. Pemberian obat yang efektif, seperti terapi bisa segera diberikan untuk mencegah dan meminimalkan terjadi cacat sendi yang tidak diharapkan,” jelasnya dihadapan para dokter umum, spesialis, perawat, apoteker, dan mahasiswa.

Acara Ilmiah Tahunan yang berlangsung selama 2 hari tersebut terselenggara atas kerjasama Perhimpunan Reumatologi Bandung, Divisi Reumatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSHS, dan didukung oleh anggota IRA dan PB IRA.  Acara dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dr. Alma Lucyati, M.Kes, M.Si, MH.Kes.

“Topik yang ditampilkan dalam ilmiah tahunan kali ini beragam. Selain topik mengenai reumatik, dibahas pula mengenai berbagai jenis rematik yang banyak ditemukan seperti osteoartitis, osteoporosis, gout, artritis rheumatoid, juga jenis rematik yang lebih jarang ditemui,” ungkap Ketua Panitia , dr. Rachmat Gunadi,SpPD-KR. Sekitar 400 peserta mengikuti acara ini, terdiri dari 125 dokter spesialis dan 275 dokter umum, perawat, apoteker, dan mahasiswa.

Rangkaian acara terdiri dari 4 jenis workshop dengan topik-topik seperti Mixed Pain, Low Back Pain, Managing Chronic Pain in Rheumatology dan Autoimmune Rheumatic Disease.”Kami juga mengadakan dua simposium ditujukan untuk masyarakat awam (non-kedokteran) dengan tema lupus dan rematik., diselenggarakan pada Minggu, 10 Februari. Acara dimeriahkan pula dengan stand pameran yang diikuti oleh 16 perusahaan farmasi,” tutup dr. Rachmat Gunadi. ***

Comments are closed.

%d bloggers like this: